Alytpuspitasari's Blog

Kecerdasan Emosional

Posted on: Juni 7, 2010

Kecerdasan Emosional

Pengertian Kecerdasan Emosional

Istilah kecerdasan emosional pertama kali diucapkan oleh psikolog Peter Salovey dari Harvard University dan John Mayer dari University of New Hampshire pada tahun 1990 untuk menerangkan kualitas-kualitas emosional yang tampaknya penting bagi keberhasilan. Salovey dan Mayer mula-mula mendefinisikan kecerdasan emosional sebagai himpunan bagian dari kecerdasan sosial yang melibatkan kemampuan memantau perasaan dan emosi baik pada diri sendiri maupun pada orang lain (dalam Saphiro, 1997).

Menurut Stein dan Book (2002), kecerdasan emosional adalah serangkaian kecakapan yang memungkinkan kita melapangkan jalan di dunia yang rumit, meliputi aspek pribadi, sosial, dan pertahanan dari seluruh kecerdasan, akal sehat yang penuh misteri dan kepekaan yang penting untuk berfungsi secara efektif setiap hari. Dalam bahasa sehari-hari kecerdasan emosional biasanya kita sebut sebagai “street smart (pintar), atau kemampuan khusus yang kita sebut “akal sehat”.

Patton (2000) kecerdasan emosi adalah dasas-dasar pembentukan emosi yang mencakup keterampilan-keterampilan seseorang untuk mengadakan impuls-impuls dan menyalurkan emosi yang kuat secara efektif.

Bar-On (dalam Stein & Book, 2004) mengemukakan bahwa kecerdasan emosi adalah serangkaian kemampuan, kompetensi, dan kecakapan non-kognitif, yang mempengaruhi seseorang untuk berhasil mengatasi tuntutan dan tekanan lingkungan.

Menurut Goleman (1995) kecerdasan emosional adalah kemampuan lebih yang dimiliki seseorang dalam memotivasi diri, ketahanan dalam menghadapi kegagalan, mengendalikan emosi dan menunda kepuasan serta mengatur keadaan jiwa.

Menurut Aristoteles (dalam Goleman, 2000) kecerdasan emosional mencakup pengendalian diri, semangat dan ketekunan, serta kemampuan untuk memotivasi diri sendiri.

Simmon dan Simmons Jr (dalam Fakhrurrozi dan Anggrainie, 2001), mendefinisikan kecerdasan emosi sebagai, Emotional Intelligence is the emotional needs, drives, and true values of a person and guide all overt behavior. Singkatnya kecerdasan emosi yang kita miliki adalah pemandu seluruh aktivitas kita dalam kehidupan sehari-hari.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kecerdasan emosional adalah serangkaian kemampuan, kompetensi dan kecakapan non-kognitif serta pembentukan emosi yang mencakup keterampilan-keterampilan seseorang yang mempengaruhi keharmonisan dan keberhasilan hidup seseorang bagi dirinya sendiri maupun hubungan lingkungan sekitar dalam mengatasi tuntutan dan tekanan lingkungan yang juga meliputi aspek pribadi, sosial dan pertahanan dari seluruh kecerdasan, akal sehat, kepekaan yang berfungsi secara efektif setiap hari untuk memotivasi diri, ketahanan dalam menghadapi kegagalan, mengendalikan emosi serta mengatur keadaan jiwa.

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Kecerdasan Emosi

Menurut Goleman (200) faktor-faktor yang mempengaruhi kecerdasan emosional meliputi :

  • Faktor yang bersifat bawaan genetik

Faktor yang bersifat bawaan genetik misalnya temperamen. Menurut Kagan (1972) ada 4 temperamen, yaitu penakut, pemberani, periang, pemurung. Anak yang penakut dan pemurung mempunyai sirkuit emosi yang lebih mudah dibangkitkan dibandingkan dengan sirkuit emosi yang dimiliki anak pemberani dan periang. Temperamen atau pola emosi bawaan lainnya dapat dirubah sampai tingkat tertentu melalui pengalaman, terutama pengalaman pada masa kanak-kanak. Otak dapat dibentuk melalui pengalaman untuk dapat belajar membiasakan diri secara tepat (anak diberi kesempatan untuk menghadapi sendiri masalah yang ada, kemudian dibimbing menangani kekecewaannya sendiri dan mengendalikan dorongan hatinya dan berlatih empati.

  • Faktor yang berasal dari lingkungan

Kehidupan keluarga merupakan sekolah pertama kita untuk mempelajari emosi, dalam lingkungan yang akrab ini kita belajar begaimana merasakan perasaan kita sendiri dan bagaimana orang lain menanggapi perasaan kita, bagaimana berfikir tentang perasaan ini dan pilihan-pilihan apa yang kita miliki untuk bereaksi, serta bagaimana membaca dan mengungkap harapan dan rasa takut. Pembelajaran emosi bukan hanya melalui hal-hal yang diucapkan dan dilakukan oleh orang tua secara langsung pada anak-anaknya, melainkan juga melalui contoh-contoh yang mereka berikan sewaktu menangani perassaan mereka sendiri atau perasaan yang biasa muncul antara suami dan istri. Ada ratusan penelitian yang memperhatikan bahwa cara orang tua memperlakukan anak-anaknya entah dengan disiplin yang keras atau pemahaman yang empatik, entah dengan ketidakpedulian atau kehangatan, dan sebagainya berakibat mendalam dan permanen bagi kehidupan emosional anak.

Komponen-komponen Kecerdasan Emosi

Menurut Goleman (1995) komponen-komponen kecerdasan emosi meliputi :

  • Mengenali Emosi Diri

Adanya kemampuan seseorang untuk mengenali bagaimana perasaan yang muncul pada diri sendiri. Kesadaran diri dalam mengenali perasaan sewaktu perasaan itu terjadi merupakan dasar kecerdasan emosi. Pada tahap ini diperlukan adanya pemantauan perasaan dari waktu kewaktu agar timbul wawasan psikologi dan pemahaman tentang diri. Ketidakmampuan mencermati perasaan yang sesungguhnya membuat diri berada dalam kekuasaan perasaan. Sehingga tidak peka akan perasaan yang sesungguhnya yang berakibat buruk bagi pengambilan keputusan masalah.

  • Mengelola Emosi

Mengelola emosi adalah kemampuan yang dapat membuat seseorang untuk mengatur emosi dalam dirinya maupun orang lain, mengelola emosi berarti menangani perasaan agar perasaan dapat terungkap dengan tepat. Hal ini merupakan kecakapan yang sangat bergantung pada kesadaran diri.

  • Memotivasi Diri

Motivasi menurut Myres (dalam Goleman, 1995) adalah suatu kebutuhan atau keinginan yang dapat member kekuatan dan mengarahkan tingkah laku. Jadi motivasi merupakan pendorong bagi terwujudnya kinerja yang tinggi dalam bidang yang diharapkan. Kemampuan seseorang dalam memotivasi diri dapat ditelusuri melalui hal-hal berikut :

  • Optimisme

Optimis adalah sikap yang menahan seseorang untuk tidak terjerumus dalam keadaan apatis, keputusan, dan depresi pada saat mengalami kekecewaan dan kesulitan dalam hidup. Optimis merupakan sikap cerdas secara emosional (Goleman, 1995).

  • Harapan

Harapan sangat bermanfaat dalam kehidupan. Harapan menurut Synder (dalam Goleman, 1995) merupakan keyakinan adanya kemauan maupun cara untuk mencapai sasaran yang telah ditetapkan. Orang yang mempunyai harapan tidak akan menjadi cemas dan tidak akan bersikap pasrah, mereka mempunyai beban stress yang rendah.

  • Flow

Flow merupakan puncak pemanfaatan emosi demi mencapai sasaran yang ditetapkan. Dalam flow emosi tidak hanya ditampung dan disalurkan tetapi juga bersifat mendukung, member tenaga dan selaras dengan tugas yang dihadapi. Ciri khas flow adalah perasaan kebahagiaan spontan. Flow adalah keadaan ketika seseorang sepenuhnya terserap kedalam apa yang sedang dikerjakan, perhatian terfokus pada pekerjaan itu dan kesadaran menyatu dengan tindakan. Suatu keadaan konsentrasi yang tinggi adalah inti flow.

  • Mengenali Emosi Orang Lain

Mengenali emosi orang lain berarti kemampuan menangkap sinyal-sinyal sosial tersembunyi yang mengisyaratkan hal-hal yang dibutuhkan atau dikehendaki orang lain atau lebih dikenal dengan empati. Empati atau mengenal emosi orang lain dibangun berdasarkan pada kesadaran diri. Jika seseorang terbuka pada emosi sendiri maka dapat dipastikan bahwa ia akan terampil membaca perasaan orang lain. Sebaliknya orang yang tidak mampu menyesuaikan diri dengan emosinya sendiri dapat dipastikan tidak akan mampu menghormati perasaan orang lain.

  • Membina Hubungan Dengan Orang Lain

Mampu menangani emosi orang lain merupakan inti dari membina hubungan dengan orang lain yang merupakan salah satu aspek dari kecerdasan emosi. Untuk mengatasi emosi orang lain dibutuhkan dua keterampilan emosi yaitu menegemen diri dan empati. Dengan landasan ini, keterampilan berhubungan dengan orang lain akan menjadi matang. Kemampuan seseorang seperti ini memungkinkan seseorang mambentuk suatu hubungan untuk menggerakkan dan mengilhami orang lain, membina kedekatan hubungan, meyakinkan, mempengaruhi dan membuat orang lain merasa nyaman.

Berdasarkan komponen-komponen kecerdasan emosi yang diungkapkan Goleman (1995) seseorang dikatakan memiliki kecerdasan emosi yang baik bila individu mampu mengenali emosi diri, mengolah emosi dengan baik, memotivasi diri dengan mengedepankan optimism, harapan dan flow, dan juga dapat mengenali emosi orang lain serta menjaga hubungan dengan orang lain.

Ciri-ciri Individu Yang Memiliki Kecerdasan Emosi Tinggi

Goleman (1996) mengemukakan cirri-ciri individu yang memiliki kecerdasan emosi tinggi, yaitu :

  • Memiliki kemampuan untuk memotivasi diri sendiri dan dapat bertahan dalam menghadapi frustrasi.
  • Dapat mengendalikan dorongan-dorongan hati sehingga tidak melebih-lebihkan suatu kesenangan.
  • Mampu mengatur suasana hati dan dapat menjaganya agar beban stress tidak melumpuhkan kemampuan berpikir seseorang.
  • Mampu untuk berempati terhadap orang lain dan tidak lupa berdoa.

Sumber :

Fakhrurrozi, M. & Anggrainie, N. 2001. Kebijaksanaan hidup orang jawa dan kecerdasan emosional (EQ). Jurnal Ilmiah Penelitian Psikologi Universitas Gunadarma. Nomor 2 Jilid 6.

Goleman, D. 1996. Kecerdasan emosional : Mengapa EI lebih penting daripada IQ. Terjemahan: Hermaya, T. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Goleman, D. 2000. Kecerdasan emosional : Mengapa EI lebih penting daripada IQ. Terjemahan: Hermaya, T. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Goleman, D. 2005. Working with emotional intelligence: kecerdasan emosi untuk mencapai puncak prestasi. Jakarta: Gramedia Pustaka Umum.

Goleman, D. 2007. Emotional intelligence: mengapa EI lebih penting daripada IQ. Jakarta: Gramedia Pustaka Umum.

Patton, P. 2000. EQ: pengembangan sukses lebih bermakna. Jakarta: Media Publishers.

Shapiro, L. (1998). Mengajarkan emotional intelligence pada anak. Jakarta: Gramedia Pustaka Umum.

Stein, S. J. & Book, H. E. 2002. Prinsip dasar kecerdasan emosi meraih sukses. Alih bahasa: Januarsari, T, R & Murtanto, Y. Bandung: Kaifa.

Stein, S. J. & Book, H. E. 2004. Ledakan EQ: 15 prinsip dasar kec

Tjundjing, S. 2001. Hubungan antara IQ, EQ, dan AQ dengan prestasi studi pada siswa SMU. Anima, Indonesian Psychological Journal, Volume XVII No. 1, 69-87.

erdasan emosional meraih sukses. Terjemahan: Januarsari, T. R., & Murtanto, Y. Bandung: Kaifa.

About these ads

3 Tanggapan to "Kecerdasan Emosional"

Tulisan yg menarik.Singkat tapi bisa memberikan pemahaman yg cukup mengenai kecerdasan emosional..

oh begitu.ada bonus referensinya juga.makasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: