Alytpuspitasari's Blog

Pertanyaan untuk kalian dan juga diri gw sendiri. Kalo kalian di omongin orang lain, mungkin orang yg ketemu dijalan atau satu kendaraan umum atau bahkan oleh teman sendiri, kalian bisa menebak gak apa yg mereka “omongin” tentang kita??
Topik perbincangan itu gak akan jd hot news kalo ga ada sesuatu yg salah dalam diri orang tersebut (menurut gw sih gitu).

Terkadang..
Kehidupan tidak selalu sesuai dengan keinginan
Tidak selalu sesuai dengan yang kita harapkan
Namun..
Di tengah konsekuensi hidup yang harus kita jalani
Kitapun dihadapkan dengan berbagai permasalahan..
Permasalahan hidup yang harus kita lalui dan hadapi

Karna Tuhan tidak akan membantumu agar semuanya menjadi mudah
Tapi..
Tuhan akan memberimu kekuatan..
Kekuatan agar kau tetap berjuang dan tangguh menghadapinya
Maka segalanya akan terasa mudah…

Fighting (҂’̀⌣’́)9
ALYT..

TES RORSCHACH

Latar Belakang Teknik Rorschach

  • Pertama kali teknik ini dipublikasikan resmi tahun 1921 oleh Hermann Rorschach (psikiater Swiss) dalam monografnya Psychodiagnostik.
  • Dalam monografnya ini ia mengemukakan bercak tinta yang terpilih, temuan diagnostiknya, dan landasan teori dari temuannya.
  • Cara membuat bercak tinta tersebut:

Tinta ditumpahkan di sehelai kertas, lalu kertas dilipat, tinta kemudian menyebar di kertas. Tidak semua figur dapat digunakan, hanya yang memenuhi kondisi tertentu yang dapat dipakai. Pertama, bentuknya harus relatif simpel, yang kompleks malah menyulitkan komputasi faktor-faktornya. Selanjutnya, bercak tersebut tidak boleh sugestif. Setiap figur yang memenuhi persyaratan, harus diujicobakan sebelum digunakan sebagai alat tes.

Standarisasi Alat Tes

  • Alat tes ini distandardisasi dengan populasi pasien RS tempat Hermann menjabat sebagai kepala psikiater, ini merupakan hasil kerja 10 tahun riset dan eksplorasi.
  • Terpilihlah 10 kartu dari ribuan bercak percobaan.

Perkembangan riset sebelumnya

  • Telah banyak peneliti sebelumnya yang tertarik melakukan investigasi tentang bercak tinta. Tes Rorscach merupakan titik puncak dari 20 tahun eksperimen dengan bercak tinta di Eropa dan Amerika.
  • Justinus Kerner bekerja di labor Tübingen Jerman. Dia secara tidak sengaja menyadari banyak hal yang bisa dilihat pada bercak tinta. Ia tidak menyadari adanya kemungkinan hubungan persepsi bercak ini dengan diagnosa kepribadian.
  • 1895 Alfred Binet mengemukakan adanya kemungkinan bercak tinta dapat digunakan untuk menginvestigasi imajinasi visual dalam studi trait kepribadian.
  • Setahun kemudian Dearborn mempublikasikan artikel tentang bagaimana membuat tinta hitam putih dan berwarna dan menggunakan tinta dalam psikologi eksperimental.
  • Tahun 1910 Whipple yang pertama kali menstandardisasi tes bercak tinta.
  • Dekade berikutnya FC Bartlett menggunakan bercak tinta sebagai alat tes persepsi dan imajinasi, dan disimpulkannya bahwa tinta dapat mengungkap minat dan mungkin pekerjaan responden.
  • 1917 Cicely Parsons berhasil menemukan bahwa perbedaan respon terhadap bercak tinta dimungkinkan oleh adanya perbedaan individual.

Perkembangan instrumen

  • Publikasi Ro pertama kali tahun 1921, dan tahun 1922 Ro meninggal (lahir 1884).
  • Tahun 1924 publikasi pertama metode Ro muncul di Inggris yang merupakan terjemah dari paper yang ditulis oleh Ro dan co-workernya Oberholzer.
  • David Levy yang ditraining oleh Oberholzer mengenalkan metode Ro di AS.
  • Samuel Beck, terpengaruh oleh Levy dan juga diajari Oberholzer adalah orang AS I yang mempublikasikan material Ro.
  • Hertz selanjutnya mengeksplorasi aspek metodologis dari Ro.

Dalam Administrasi Tes Rorschach terdapat sepuluh kartu yang dikelompokkan menjadi dua, yaitu:

  • Kartu achromatik. Kelompok kartu ini hanya mempunyai warna hitam, putih dan

abu-abu, yaitu kartu I, IV, V, VI, dan VII

  • Kartu chromatic. Kelompok kartu kromatik mempunyai aneka warna lain, misalnya

merah, biru hijau dan sebagainya, yaitu kartu II, III, VIII, IX, dan X.

Penyajian tes Rorschach dibagi dalam empat tahapan, yaitu:

1.Performance Proper (PP).

2. Inquiry.

3. Analogy.

4. Testing the Limits.

SKORING

Tujuan dari skoring dalam tes Rorschach tidak lain adalah:

  • Untuk engelompokkan bahan dari hasil tes Rorschach ke dalam aspek-aspek tertentu, agar dapat diinterpretasi.
  • Untuk merubah jawaban yang masih bersifat kualitatif menjadi bahan kuantitatif.
  • Sebagai sarana komunikasi antara ahli satu dengan lainnya.

Pada prinsipnya skoring yang dimaksudkan disini adalah merupakan suatu proses pengelompokkan jawaban subjek ke dalam 5 kategori skoring yaitu:

  • Location: yaitu pada bagian mana subjek melihat konsepnya itu dalam bercak.
  • Determinant: yaitu bagaimana konsep itu dilihat subjek, atau aspek apa yang digunakan subjek untuk memberikan jawabannya itu.
  • Content : yaitu apa isi jawaban subjek tersebut.
  • Popular-Original (P-O) : yaitu apakah jawaban subjek itu merupakan konsep yang sering dilihat orang lain ataukah tidak
  • Form Level Rating (FLR) : yaitu bagaimana ketepatan konsep tersebut dengan bercaknya serta bagaimana kualitasnya.

    SKORING LOCATION

  • Jawaban Whole:

Jawaban ini terdiri dari skor W (Whole) ,W (Whole-cut), DW (Confabulatory whole).

  • Skor W (whole)

Skor ini diberikan bila subjek menggunakan seluruh bercak sebagai dasar untuk memberikan jawabannya.

  • Skor W-cut (whole cut)

Skor ini diberikan bila subjek menggunakan paling tidak dua pertiga dari bercak. Subjek tidak bermaksud menggunakan seluruh bercak. Ada sedikit bagian yang dihilangkan karena tidak sesuai dengan konsepnya.

  • Skor DW atau dW (Confabulatory whole)

Skor DW diberikan apabila subjek mengguanakn suatu detail kemudian digeneralisasikan pada seluruh bercak.

  • Jawaban Large Usual Detail (Skor D)

Skor D diberikan apabila subjek menggunakan bagian yang besar dari bercak yang sudah biasa digunakan oleh orang lain. Bagian mudah dibedakan dengan bagian yang lain karena color, shading atau space. Untuk mengetahui mana bagian yang diskor D atau diskor yang lain, dilaksanakan dengan melihat pada tabel lokasi yang sudah ada pada lampiran.

  • Jawaban Small Usual Detail (Skor d)

Skor ‘d’ diberikan pada penggunaan bercak yang relatif kecil, tetapi mudah dilihat dengan adanya color, shading atau space. Untuk menentukan skor ini juga perlu melihat tabel lokasi.

  • Jawaban Un-usual Detail (Skor Dd)

Jawaban un-usual detail adalah jawaban yang tidak merupakan jawaban whole(W), tidak ada dalam daftar jawaban large atau small usual detail (D atau d), serta bukan jawaban space (S). Jawaban ‘un-usual detail’ diberi simbol dengan ‘Dd’, tetapi simbol ini tidak digunakan dalam skoring melainkan menunjukkan semua un-usual detail yang terdiri dari :

  • Tiny Detail (dd)

Skor ‘dd’ diberikan pada jawaban yang menggunakan lokasi yang kecil sekali, tetapi masih bisa dibedakan dengan adanya color, shading atau space. Skor ini juga telah ditujukkan pada daftar tabel lokasi.

  • Edge Detail (de)

Skor ‘de’ digunakan untuk jawaban yang menggunakan lokasi bagian sisi luar dari bercak.

  • Inner Detail (di)

Skor ‘di’ diberikan untuk lokasi didalam bercak yang sulit untuk dipisahkan dari bagian lain oleh color, shading atau space.

  • Rare detail (dr)

Skor ‘dr’ diberikan pada jawaban yang lokasinya tidak biasa digunakan oleh orang lain. Lokasi ini tidak dapat digolongkan dalam dd, de, atau di dan juga tidak dapat digolongkan dalam d, D, atau W. Lokasi untuk skor dr tidak selalu bagian bercak yang kecil. Kadang-kadang bercaknya juga besar.

  • Jawaban White Space (S)

Jawaban diberi skor ‘S’ apabila subjek membalik penggunaan ‘figure’ dan ‘ground’, sehingga bagian putih justru dijadikan sebagai landasan untuk memberikan jawaban. Kadang-kadang bagian putih itu dijadikan sebagai jawaban utamanya, tetapi kadang hanya sebagai tambahan saja. Dalam hal ini skor S diberikan sebagai tambahan (additional score).

  • Skor Lokasi Jamak (Multiple Location Score)

Dalam skoring lokasi ini ada kemungkinan subjek menggunakan lebih dari satu lokasi dalam memberikan jawaban, atau mungkin dia menggunakan beberapa lokasi kemudian digabungkan dalam satu jawaban. Dalam hal ini dilaksanakan skor lokasi jamak (multiple location score).

SKORING DETERMINAT

  • Jawaban Definite : yaitu konsep jawaban yang mempunyai bentuk yang pasti.
  • Jawaban Semi-definite : yaitu suatu konsep jawaban yang mempunyai bentuk kurang

pasti.

  • Jawaban In-definite : yaitu konsep jawaban yang sama sekali tidak mempunyai bentuk

yang pasti atau bentuknya

Ada empat unsur yang termasuk dalam kategori skoring determinant ini, yaitu:

  • 1. Form (bentuk)
  • 2. Movement (Gerakan)
  • 3. Shading (Perbedaan gelap terang)
  • 4. Color (Warna)

berdasarkan keempat unsur itu, maka dalam skoring determinant ini digunakan simbol-simbol sebagai berikut:

  • F untuk jawaban-jawaban yang menggunakan bentuk (form) saja.
  • M, FM, fm, mf, dan m unruk jawaban-jawaban yang mengandung unsur gerakan (movement).
  • Fc, cf, c untuk jawaban yang menggunakan shading sebagai kualitas permukaan (texture).
  • FK, KF, K untuk jawaban yang menggunakan shading untuk kesan-kesan kedalaman (diffuse).
  • Fk, kf, k untuk jawaban yang menggunakan shading sebagai bentuk tiga dimensi yang sudah diproyeksikan dalam bentuk dua dimensi.
  • FC, CF, C untuk jawaban yang menggunakan warna-warna (color) selain hitam, abu-abu dan putih.
  • FC’, C’F, C’ untuk jawaban yang menggunakan warna hitam, abu-abu dan putih.

SKORING CONTENT

Skoring content yaitu menentukan apa isi jawaban subjek. Skoring content ini memang tidak begitu sukar, karena sudah jelas dan kategorinya tidak terlalu rumit.

SKORING P-O (POPULAR-ORIGINAL)

Skoring Popular

Suatu jawaban disebut popular bila jawaban tersebut sering muncul atau diberikan oleh banyak subjek pada suatu lokasi bercak tertentu.

Jawaban Original

Jawaban original yang diskor O adalah pada satu bagian bercak tertentu yang hanya muncul sekali diantara seratus jawaban.

SKORING FLR (FORM LEVEL RATING)

Dasar penyekoran FLR, yaitu:

  • Ketepatan (akurasi)
  • Kekhususan (spesifikasi)
  • Pengorganisasian (organisasi)

Basal Rating dalam FLR

  • Basal rating +1,0
  • Basal rating +1,5
  • Basal rating +0,5
  • Basal rating 0,0
  • Basal rating -1,0
  • Basal rating -1,5
  • Basal rating -2,0

Sumber :

Subandi, M. A. & Wulan, R. Tes Rorschach: administrasi dan scoring. Fakultas psikologi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Prestasi Belajar

Pengertian Prestasi Belajar

Belajar merupakan suatu aktivitas mental yang berlangsung dalam interaksi aktif siswa dengan lingkungannya dan menghasilkan perubahan-perubahan yang relatif permanen dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan, dan nilai sikap (Winkel, 1987). Karena itu, sehubungan dengan kegiatan belajar mengajar, maka pengertian belajar yang dimaksud dalam penelitian ini dikaitkan dengan efektivitas metode Mind Map yang digunakan dalam hal meningkatkan prestasi belajar siswa.

Prestasi belajar adalah hasil evaluasi pendidikan yang dicapai oleh siswa setelah menjalani proses pendidikan formal dalam jangka waktu tertentu dan hasil tersebut berwujud angka-angka (Soeryabrata, 1998). Sedangkan menurut Poerwadarminta (dalam Tanaya, dkk, 1999) mendefinisikan bahwa prestasi belajar adalah hasil yang telah dicapai, dilakukan atau dikerjakan oleh seseorang sebagai hasil belajar.

Masrun dan Martaniah (dalam Muryono, 1996) mendefinisikan bahwa prestasi belajar merupakan hasil kegiatan belajar, yaitu sejauh mana peserta didik menguasai bahan pelajaran yang diajarkan. Dengan perkataan lain, prestasi belajar merupakan ukuran keberhasilan siswa dalam menguasai materi pelajaran yang diberikan.

Menurut Poerwadarminta (2003) prestasi belajar adalah hasil yang telah dicapai, dilakukan atau dikerjakan oleh seseorang sebagai hasil dari belajar.

    Faktor-fakor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar

Menurut Soeryabrata (dalam Tjundjing, 2001) terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi prestasi belajar, yaitu:

  • Faktor Internal
  • Faktor Fisiologis

Yang dimaksud dengan faktor fisiologis mengacu pada keadaan fisik, khususnya sistem penglihatan dan pendengaran. Kedua sistem penginderaan tersebut dianggap sebagai faktor yang paling bermanfaat diantara kelima indera yang dimiliki manusia. Untuk dapat menempuh belajar dengan baik seseorang perlu memperhatikan dan memelihara kesehatan tubuhnya. Keadaan fisik yang lemah merupakan suatu penghalang yang sangat besar bagi seseorang dalam menyelesaikan program belajarnya. Untuk memelihara kesehatan fisiknya seseorang perlu memperhatikan pola makan dan pola tidurnya, hal ini diperlukan untuk memperlancar metabolism dalam tubuhnya. Selain itu untuk memelihara kesehatan, bahkan juga dapat meningkatkan ketangkasan fisik, juga diperlukan olah raga secara teratur.

  • Faktor Psikologis

Faktor psikologis meliputi faktor non-fisik, seperti minat, motivasi, intelegensi, perilaku dan sikap.

Pada pembahasan ini yang dimaksud intelegensi cenderung mengacu pada kecerdasan intelektual. Kecerdasan intelektual yang tinggi akan mempermudah seseorang untuk memahami suatu permasalahan. Orang yang memiliki kecerdasan intelektual tinggi, pada umumnya memiliki potensi dan kesempatan yang lebih besar untuk meraih prestasi belajar yang baik, dibandingkan dengan mereka yang memiliki kecerdasan intelektual biasa-biasa saja, apalagi bila dibandingkan mereka yang tergolong memiliki kecerdasan intelektual rendah.

  • Faktor Eksternal
  • Faktor lingkungan keluarga
  • Sosial ekonomi keluarga

Dengan sosial ekonomi yang memadai seseorang lebih mempunyai kesempatan untuk mendapatkan fasilitas belajar yang lebih baik, mulai dari buku, alat tulis, sampai pemilihan sekolah.

  • Pendidikan orang tua

Orang tua yang telah menempuh jenjang pendidikan tinggi cenderung lebih memperhatikan dan memahami pentingnya pendidikan bagi anak-anaknya dibandingkan dengan mereka yang menmpuh pendidikan pada jenjang yang lebih rendah.

  • Perhatian orang tua dan suasana hubungan antara anggota keluarga

Dukungan dari keluarga merupakan salah satu pemacu semangat berprestasi bagi seseorang. Dukungan dalam hal ini bisa secara langsung berupa pujian maupun nasihat, atau secara tidak langsung misalnya dalam wujud kehidupan keluarga yang akrab dan harmonis.

  • Faktor lingkungan sekolah
  • Sarana dan prasarana

Kelengkapan fasilitas sekolah atau perguruan tinggi seperti OHP, kipas angin, microphone akan membantu kelancaran proses belajar mengajar di sekolah atau perguruan tinggi. Selain itu bentuk ruangan, sirkulasi udara dan lingkungan sekitar kampus atau sekolah juga turut mempengaruhi proses belajar mengajar.

  • Kompetensi guru dan siswa

Kualitas guru dan siswa sangat penting dalam meraih prestasi, kelengkapan sarana dan prasarana tanpa disertai kinerja yang baik dari para penggunanya akan sia-sia belaka.

  • Kurikulum dan metode mengajar

Hal ini meliputi materi dan bagaimana cara memberikan materi tersebut kepada siswa. Metode pengajaran yang lebih interaktif sangat diperlukan untuk menumbuhkan minat dan peran serta siswa dalam kegiatan pembelajaran.

  • Faktor lingkungan masyarakat
  • Sosial budaya

Pandangan masyarakat tentang pentingnya pendidikan akan mempengaruhi kesungguhan pendidik dan peserta didik. Masyarakat yang masih memandang rendah pendidikan akan enggan mengirimkan anakanya ke sekolah, dan cenderung memandang rendah pekerjaan guru atau pengajar.

  • Partisipasi terhadap pendidikan

Bila semua pihak telah berpartisipasi dan mendukung kegiatan pendidikan, mulai dari pemerintah (berupa kebijakan dan anggaran) sampai pada masyarakat bawah (kesadaran akan pentingnya pendidikan), setiap orang akan lebih menghargai dan berusaha memajukan pendidikan dan ilmu pengetahuan. Hal ini akan memunculkan pendidik dan peserta didik yang lebih berkualitas.

Aspek-aspek dalam Prestasi Bealajar

Menurut Gagne (dalam Winkel, 1996) prestasi belajar dapat digolongkan menjadi beberapa aspek:

  • Informasi verbal, yaitu menyatakan kembali informasi yang diperoleh dari proses belajar
  • Keterampilan intelektual, melalui proses belajar seseorang akan mampu berfungsi dengan baik dalam masyarakat.
  • Keterampilan motorik, yakni kemampuan menguasai berbagai jenis keterampilan gerak.
  • Sikap adalah kapabilitas yang memperngaruhi pilihan tentang tindakan mana yang akan dilakukan. Misalnya pengembangan sikap terhadap belajar atau sikap terhadap prestasi.
  • Siasat kognitif, yakni kapabilitas yang mengatur cara bagaimana peserta belajar mengelola belajarnya.

Sumber :

Muryono. 1996. Intelegensi dalam hubungannya dengan prestasi belajar. Jurnal Anima, Volume XI, 174-183.

Suryabrata, S. 1998. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Tanaya, H. T., Hartanti & Kartika, A. 1999. Perbedaan prestasi belajar matematika antara kompetisi peringkat kelas dan metode kompetisi alternatif. Jurnal Anima, Volume XIV, 259-270.

Winkel, W. S. (1996). Psikologi pengajaran. Jakarta: Gramedia.

    Penyesuaian Diri

Pengertian

Menurut Kartono (2000), penyesuaian diri adalah usaha manusia untuk mencapai harmoni pada diri sendiri dan pada lingkungannya. Sehingga permusuhan, kemarahan, depresi, dan emosi negatif lain sebagai respon pribadi yang tidak sesuai dan kurang efisien bisa dikikis. Hariyadi, dkk (2003) menyatakan penyesuaian diri adalah kemampuan mengubah diri sesuai dengan keadaan lingkungan atau dapat pula mengubah lingkungan sesuai dengan keadaan atau keinginan diri sendiri. Ali dan Asrori (2005) juga menyatakan bahwa penyesuaian diri dapat didefinisikan sebagai suatu proses yang mencakup respon-respon mental dan perilaku yang diperjuangkan individu agar dapat berhasil menghadapi kebutuhan-kebutuhan internal, ketegangan, frustasi, konflik, serta untuk menghasilkan kualitas keselarasan antara tuntutan dari dalam diri individu dengan tuntutan dunia luar atau lingkungan tempat individu berada. Sebelumnya Scheneiders (dalam Yusuf, 2004), juga menjelaskan penyesuaian diri sebagai suatu proses yang melibatkan respon-respon mental dan perbuatan individu dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan, dan mengatasi ketegangan, frustasi dan konflik secara sukses serta menghasilkan hubungan yang harmonis antara kebutuhan dirinya dengan norma atau tuntutan lingkungan dimana dia hidup. Hurlock (dalam Gunarsa, 2003) memberikan perumusan tentang penyesuaian diri secara lebih umum, yaitu bilamana seseorang mampu menyesuaikan diri terhadap orang lain secara umum ataupun terhadap kelompoknya, dan ia memperlihatkan sikap serta tingkah laku yang menyenangkan berarti ia diterima oleh kelompok atau lingkungannya. Dengan perkataan lain, orang itu mampu menyesuaikan sendiri dengan baik terhadap lingkungannya

Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa penyesuaian diri adalah proses mengubah diri sesuai dengan norma atau tuntutan lingkungan dimana dia hidup agar dapat berhasil menghadapi kebutuhan-kebutuhan internal, ketegangan, frustasi dan konflik sehingga tercapainya keharmonisan pada diri sendiri serta lingkungannya dan akhirnya dapat diterima oleh kelompok dan lingkungannya.

Aspek-aspek Penyesuaian Diri

Menurut Fatimah (2006) penyesuaian diri memiliki dua aspek, yaitu sebagai berikut:

  • Penyesuaian pribadi

Penyesuaian pribadi adalah kemampuan seseorang untuk menerima diri demi tercapai hubungan yang harmonis antara dirinya dengan lingkungan sekitarnya. Ia menyatakan sepenuhnya siapa dirinya sebenarnya, apa kelebihan dan kekurangannya dalam mampu bertindak objektif sesuai dengan kondisi dirinya tersebut.

Pada aspek ini, keberhasilan penyesuaian pribadi ditandai oleh:

  • Tidak adanya rasa benci,
  • Tidak ada keinginan untuk lari dari kenyataan atau tidak percaya pada

potensi dirinya.

Sebaliknya, kegagalan penyesuaian pribadi ditandai oleh:

  • Kegoncangan emosi
  • Kecemasan
  • Ketidakpuasan dan keluhan terhadap nasib yang dialaminya sebagai akibat adanya jarak pemisah anatara kemampuan individu dan tuntutan yang diharapkan oleh lingkungannya.
  • Penyesuaian sosial

Penyesuaian sosial terjadi dalam lingkup hubungan sosial di tempat individu itu hidup dan berinterakasi dengan orang lain. Hubungan-hubungan sosial tersebut mencakup hungan dengan anggota keluarga, masyarakat, sekolah, teman sebaya, atau anggota masyarakat luas secara umum.

Proses yang harus dilakukan individu dalam penyesuaian sosial adalah kemauan untuk mematuhi nilai dan norma sosial yang berlaku dalam masyarakat. Setiap kelompok masyarakat atau suku bangsa memiliki sistem nilai dan norma sosial yang berbeda-beda. Dalam proses penyesuaian sosial individu berkenalan dengan nilai dan norma sosial yang berbeda-beda lalu berusaha untuk mematuhinya, sehingga menjadi bagian dan membentuk kepribadiannya.

Karakteristik Penyesuaian Diri

Menurut Hariyadi dkk. (2003) terdapat beberapa karakteristik penyesuaian diri yang positif, diantaranya:

  • Kemampuan menerima dan memahami diri sebagaimana adanya. Karakteristik ini mengandung pengertian bahwa orang yang mempunyai penyesuaian diri yang positif adalah orang yang sanggup menerima kelemahan-kelemahan, kekurangan-kekurangan di samping kelebihan-kelebihannya. Individu tersebut mampu menghayati kepuasan terhadap keadaan dirinya sendiri, dan membenci apalagi merusak keadaan dirinya betapapun kurang memuaskan menurut penilaiannya. Hal ini bukan berarti bersikap pasif menerima keadaan yang demikian, melainkan ada usaha aktif disertai kesanggupan mengembangkan segenap bakat, potensi, serta kemampuannya secara maksimal.
  • Kemampuan menerima dan menilai kenyataan lingkungan di luar dirinya secara objektif, sesuai dengan perkembangan rasional dan perasaan. Orang yang memiliki penyesuaian diri positif memiliki ketajaman dalam memandang realita, dan mampu memperlakukan realitas atau kenyataan secara wajar untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Ia dalam berperilaku selalu bersikap mau belajar dari orang lain, sehingga secara terbuka pula ia mau menerima feedback dari orang lain.
  • Kemampuan bertindak sesuai dengan potensi, kemampuan yang ada pada dirinya dan kenyataan objektif di luar dirinya. Karakteristik ini ditandai oleh kecenderungan seseorang untuk tidak menyia-nyiakan kekuatan yang ada pada dirinya dan akan melakukan hal-hal yang jauh di luar jangkauan kemampuannya. Hal ini terjadi perimbangan yang rasional antara energi yang dikeluarkan dengan hasil yang diperolehnya, sehingga timbul kepercayaan terhadap diri sendiri maupun terhadap lingkungannya.
  • Memiliki perasaan yang aman dan memadai Individu yang tidak lagi dihantui oleh rasa cemas ataupun ketakutan dalam hidupnya serta tidak mudah dikecewakan oleh keadaan sekitarnya. Perasaan aman mengandung arti pula bahwa orang tersebut mempunyai harga diri yang mantap, tidak lagi merasa terancam dirinya oleh lingkungan dimana ia berada, dapat menaruh kepercayaan terhadap lingkungan dan dapat menerima kenyataan terhadap keterbatasan maupun kekurangan-kekurangan dan lingkungan-nya.
  • Rasa hormat pada manusia dan mampu bertindak toleran Karakteristik ini ditandai oleh adanya pengertian dan penerimaan keadaan di luar dirinya walaupun sebenarnya kurang sesuai dengan harapan atau keinginannya.
  • Terbuka dan sanggup menerima umpan balik Karakteristik ini ditandai oleh kemampuan bersikap dan berbicara atas dasar kenyataan sebenarnya, ada kemauan belajar dari keadaan sekitarnya, khususnya belajar mengenai reaksi orang lain terhadap perilakunya.
  • Memiliki kestabilan psikologis terutama kestabilan emosi Hal ini tercermin dalam memelihara tata hubungan dengan orang lain, yakni tata hubungan yang hangat penuh perasaan, mempunyai pengertian yang dalam, dan sikapnya wajar.
  • Mampu bertindak sesuai dengan norma yang berlaku, serta selaras dengan hak dan kewajibannya.
  • Individu mampu mematuhi dan melaksanakan norma yang berlaku tanpa adanya paksaan dalam setiap perilakunya. Sikap dan perilakunya selalu didasarkan atas kesadaran akan kebutuhan norma, dan atas keinsyafan sendiri.
    Bentuk-bentuk Penyesuaian Diri

Menurut Sunarto dan Hartono (1995) terdapat bentuk-bentuk dari penyesuaian diri, yaitu:

  • Penyesuaian diri positif ditandai dengan hal-hal sebagai berikut:
  • Tidak adanya ketegangan emosional.
  • Tidak menunjukkan adanya mekanisme-mekanisme psikologis.
  • Tidak menunjukkan adanya frustasi pribadi.
  • Memiliki pertimbangan rasional dan pengarahan diri.
  • Mampu dalam belajar.
  • Menghargai pengalaman.
  • Bersikap realistik dan objektif.

Dalam melakukan penyesuaian diri secara positif, individu akan melakukannya dalam berbagai bentuk, antara lain:

  • Penyesuaian dengan menghadapi masalah secara langsung. Individu secara langsung menghadapi masalah dengan segala akibatnya. Misalnya seorang siswa yang terlambat dalam menyerahkan tugas karena sakit, maka ia menghadapinya secara langsung, ia mengemukakan segala masalahnya kepada guru.
  • Penyesuaian dengan melakukan eksplorasi (penjelajahan). Individu mencari bahan pengalaman untuk dapat menghadapi dan memecahkan masalahnya. Misal seorang siswa yang merasa kurang mampu dalam mengerjakan tugas, ia akan mencari bahan dalam upaya menyelesaikan tugas tersebut, dengan membaca buku, konsultasi, diskusi, dan sebagainya.
  • Penyesuaian dengan trial and error atau coba-coba. Individu melakukan suatu tindakan coba-coba, jika menguntungkan diteruskan dan jika gagal tidak diteruskan.
  • Penyesuaian dengan substitusi atau mencari pengganti. Jika individu merasa gagal dalam menghadapi masalah, maka ia dapat memperoleh penyesuaian dengan jalan mencari pengganti. Misalnya gagal nonton film di gedung bioskop, dia pindah nonton TV.
  • Penyesuaian dengan menggali kemampuan pribadi. Individu mencoba menggali kemampuan-kemampuan khusus dalam dirinya, dan kemudian dikembangkan sehingga dapat membantu penyesuaian diri. Misal seorang siswa yang mempunyai kesulitan dalam keuangan, berusaha mengembangkan kemampuannya dalam menulis (me-ngarang), dari usaha mengarang ia dapat membantu mengatasi kesulitan dalam keuangan.
  • Penyesuaian dengan belajar. Individu melalui belajar akan banyak memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang dapat membantu menyesuaikan diri. Misal seorang guru akan lebih dapat menyesuaikan diri dengan banyak belajar tentang berbagai pengetahuan keguruan.
  • Penyesuaian dengan inhibisi dan pengendalian diri. Individu berusaha memilih tindakan mana yang harus dilakukan, dan tindakan mana yang tidak perlu dilakukan. Cara inilah yang disebut inhibisi. Selain itu, individu harus mampu mengendalikan dirinya dalam melakukan tindakannya.
  • Penyesuaian dengan perencanaan yang cermat. Individu mengambil keputusan dengan pertimbangan yang cermat dari berbagai segi, antara lain segi untung dan ruginya.
    • Penyesuaian diri yang salah

Penyesuaian diri yang salah ditandai dengan berbagai bentuk tingkah laku yang serba salah, tidak terarah, emosional, sikap yang tidak realistik, agresif, dan sebagainya.

Ada tiga bentuk reaksi dalam penyesuaian yang salah yaitu:

  • Reaksi bertahan (defence reaction)

Individu berusaha untuk mempertahankan diri, seolah-olah tidak menghadapi kegagalan. Bentuk khusus reaksi ini antara lain:

    • Rasionalisasi, yaitu bertahan dengan mencari-cari alasan untuk membenarkan tindakannya.
    • Represi, yaitu berusaha melupakan pengalamannya yang kurang menyenangkan. Misalnya seorang pemuda berusaha melupakan kegagalan cintanya dengan seorang gadis.
    • Proyeksi, yaitu melempar sebab kegagalan dirinya kepada pihak lain untuk mencari alasan yang dapat diterima. Misalnya seorang siswa yang tidak lulus mengatakan bahwa gurunya membenci dirinya.
    • Sour grapes (anggur kecut), yaitu dengan memutarbalikkan kenyataan. Misalnya seorang siswa yang gagal mengetik, mengatakan bahwa mesin tik-nya rusak, padahal dia sendiri tidak bisa mengetik.
  • Reaksi menyerang (aggressive reaction)

Reaksi-reaksi menyerang nampak dalam tingkah laku : selalu membenarkan diri sendiri, mau berkuasa dalam setiap situasi, mau memiliki segalanya, bersikap senang mengganggu orang lain, menggertak baik dengan ucapan maupun dengan perbuatan, menunjukkkan sikap permusuhan secara terbuka, menunjukkan sikap menyerang dan merusak, keras kepala dalam perbuatannya, bersikap balas dendam, memperkosa hak orang lain, tindakan yang serampangan, marah secara sadis.

  • Reaksi melarikan diri (escape reaction)

Reaksi melarikan diri, nampak dalam tingkah laku seperti berfantasi, yaitu memuaskan keinginan yang tidak tercapai dalam bentuk angan-angan, banyak tidur, minum-minuman keras, bunuh diri, menjadi pecandu ganja, narkotika, dan regresi yaitu kembali kepada tingkah laku yang tipis pada tingkat perkembangan yang lebih awal, misalnya orang dewasa yang bersikap dan berwatak seperti anak kecil, dan lain-lain.

Sumber :

Sunarto & Hartono, B. Agung. (1995). Perkembangan peserta didik. Jakarta: Rineka Cipta Wahjosumidjo.

Kartono, K. (2000). Hygiene mental. Bandung: Mandar Maju.

Hariyadi, Sugeng dkk. (1998). Perkembangan peserta didik. Cetakan ke 3. Semarang: IKIP Semarang Press.

Ali, M. & Asrori, M. (2005). Psikologi remaja perkembangan peserta didik. Jakarta : PT Bumi Aksar

Yusuf,S. (2004). Psikologi perkembangan anak dan remaja. Bandung : PT Remaja Rosdakarya Offset

Fatimah, N. (2006). Psikologi perkembangan. Bandung : Pusaka Setia.

Kecerdasan Emosional

Pengertian Kecerdasan Emosional

Istilah kecerdasan emosional pertama kali diucapkan oleh psikolog Peter Salovey dari Harvard University dan John Mayer dari University of New Hampshire pada tahun 1990 untuk menerangkan kualitas-kualitas emosional yang tampaknya penting bagi keberhasilan. Salovey dan Mayer mula-mula mendefinisikan kecerdasan emosional sebagai himpunan bagian dari kecerdasan sosial yang melibatkan kemampuan memantau perasaan dan emosi baik pada diri sendiri maupun pada orang lain (dalam Saphiro, 1997).

Menurut Stein dan Book (2002), kecerdasan emosional adalah serangkaian kecakapan yang memungkinkan kita melapangkan jalan di dunia yang rumit, meliputi aspek pribadi, sosial, dan pertahanan dari seluruh kecerdasan, akal sehat yang penuh misteri dan kepekaan yang penting untuk berfungsi secara efektif setiap hari. Dalam bahasa sehari-hari kecerdasan emosional biasanya kita sebut sebagai “street smart (pintar), atau kemampuan khusus yang kita sebut “akal sehat”.

Patton (2000) kecerdasan emosi adalah dasas-dasar pembentukan emosi yang mencakup keterampilan-keterampilan seseorang untuk mengadakan impuls-impuls dan menyalurkan emosi yang kuat secara efektif.

Bar-On (dalam Stein & Book, 2004) mengemukakan bahwa kecerdasan emosi adalah serangkaian kemampuan, kompetensi, dan kecakapan non-kognitif, yang mempengaruhi seseorang untuk berhasil mengatasi tuntutan dan tekanan lingkungan.

Menurut Goleman (1995) kecerdasan emosional adalah kemampuan lebih yang dimiliki seseorang dalam memotivasi diri, ketahanan dalam menghadapi kegagalan, mengendalikan emosi dan menunda kepuasan serta mengatur keadaan jiwa.

Menurut Aristoteles (dalam Goleman, 2000) kecerdasan emosional mencakup pengendalian diri, semangat dan ketekunan, serta kemampuan untuk memotivasi diri sendiri.

Simmon dan Simmons Jr (dalam Fakhrurrozi dan Anggrainie, 2001), mendefinisikan kecerdasan emosi sebagai, Emotional Intelligence is the emotional needs, drives, and true values of a person and guide all overt behavior. Singkatnya kecerdasan emosi yang kita miliki adalah pemandu seluruh aktivitas kita dalam kehidupan sehari-hari.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kecerdasan emosional adalah serangkaian kemampuan, kompetensi dan kecakapan non-kognitif serta pembentukan emosi yang mencakup keterampilan-keterampilan seseorang yang mempengaruhi keharmonisan dan keberhasilan hidup seseorang bagi dirinya sendiri maupun hubungan lingkungan sekitar dalam mengatasi tuntutan dan tekanan lingkungan yang juga meliputi aspek pribadi, sosial dan pertahanan dari seluruh kecerdasan, akal sehat, kepekaan yang berfungsi secara efektif setiap hari untuk memotivasi diri, ketahanan dalam menghadapi kegagalan, mengendalikan emosi serta mengatur keadaan jiwa.

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Kecerdasan Emosi

Menurut Goleman (200) faktor-faktor yang mempengaruhi kecerdasan emosional meliputi :

  • Faktor yang bersifat bawaan genetik

Faktor yang bersifat bawaan genetik misalnya temperamen. Menurut Kagan (1972) ada 4 temperamen, yaitu penakut, pemberani, periang, pemurung. Anak yang penakut dan pemurung mempunyai sirkuit emosi yang lebih mudah dibangkitkan dibandingkan dengan sirkuit emosi yang dimiliki anak pemberani dan periang. Temperamen atau pola emosi bawaan lainnya dapat dirubah sampai tingkat tertentu melalui pengalaman, terutama pengalaman pada masa kanak-kanak. Otak dapat dibentuk melalui pengalaman untuk dapat belajar membiasakan diri secara tepat (anak diberi kesempatan untuk menghadapi sendiri masalah yang ada, kemudian dibimbing menangani kekecewaannya sendiri dan mengendalikan dorongan hatinya dan berlatih empati.

  • Faktor yang berasal dari lingkungan

Kehidupan keluarga merupakan sekolah pertama kita untuk mempelajari emosi, dalam lingkungan yang akrab ini kita belajar begaimana merasakan perasaan kita sendiri dan bagaimana orang lain menanggapi perasaan kita, bagaimana berfikir tentang perasaan ini dan pilihan-pilihan apa yang kita miliki untuk bereaksi, serta bagaimana membaca dan mengungkap harapan dan rasa takut. Pembelajaran emosi bukan hanya melalui hal-hal yang diucapkan dan dilakukan oleh orang tua secara langsung pada anak-anaknya, melainkan juga melalui contoh-contoh yang mereka berikan sewaktu menangani perassaan mereka sendiri atau perasaan yang biasa muncul antara suami dan istri. Ada ratusan penelitian yang memperhatikan bahwa cara orang tua memperlakukan anak-anaknya entah dengan disiplin yang keras atau pemahaman yang empatik, entah dengan ketidakpedulian atau kehangatan, dan sebagainya berakibat mendalam dan permanen bagi kehidupan emosional anak.

Komponen-komponen Kecerdasan Emosi

Menurut Goleman (1995) komponen-komponen kecerdasan emosi meliputi :

  • Mengenali Emosi Diri

Adanya kemampuan seseorang untuk mengenali bagaimana perasaan yang muncul pada diri sendiri. Kesadaran diri dalam mengenali perasaan sewaktu perasaan itu terjadi merupakan dasar kecerdasan emosi. Pada tahap ini diperlukan adanya pemantauan perasaan dari waktu kewaktu agar timbul wawasan psikologi dan pemahaman tentang diri. Ketidakmampuan mencermati perasaan yang sesungguhnya membuat diri berada dalam kekuasaan perasaan. Sehingga tidak peka akan perasaan yang sesungguhnya yang berakibat buruk bagi pengambilan keputusan masalah.

  • Mengelola Emosi

Mengelola emosi adalah kemampuan yang dapat membuat seseorang untuk mengatur emosi dalam dirinya maupun orang lain, mengelola emosi berarti menangani perasaan agar perasaan dapat terungkap dengan tepat. Hal ini merupakan kecakapan yang sangat bergantung pada kesadaran diri.

  • Memotivasi Diri

Motivasi menurut Myres (dalam Goleman, 1995) adalah suatu kebutuhan atau keinginan yang dapat member kekuatan dan mengarahkan tingkah laku. Jadi motivasi merupakan pendorong bagi terwujudnya kinerja yang tinggi dalam bidang yang diharapkan. Kemampuan seseorang dalam memotivasi diri dapat ditelusuri melalui hal-hal berikut :

  • Optimisme

Optimis adalah sikap yang menahan seseorang untuk tidak terjerumus dalam keadaan apatis, keputusan, dan depresi pada saat mengalami kekecewaan dan kesulitan dalam hidup. Optimis merupakan sikap cerdas secara emosional (Goleman, 1995).

  • Harapan

Harapan sangat bermanfaat dalam kehidupan. Harapan menurut Synder (dalam Goleman, 1995) merupakan keyakinan adanya kemauan maupun cara untuk mencapai sasaran yang telah ditetapkan. Orang yang mempunyai harapan tidak akan menjadi cemas dan tidak akan bersikap pasrah, mereka mempunyai beban stress yang rendah.

  • Flow

Flow merupakan puncak pemanfaatan emosi demi mencapai sasaran yang ditetapkan. Dalam flow emosi tidak hanya ditampung dan disalurkan tetapi juga bersifat mendukung, member tenaga dan selaras dengan tugas yang dihadapi. Ciri khas flow adalah perasaan kebahagiaan spontan. Flow adalah keadaan ketika seseorang sepenuhnya terserap kedalam apa yang sedang dikerjakan, perhatian terfokus pada pekerjaan itu dan kesadaran menyatu dengan tindakan. Suatu keadaan konsentrasi yang tinggi adalah inti flow.

  • Mengenali Emosi Orang Lain

Mengenali emosi orang lain berarti kemampuan menangkap sinyal-sinyal sosial tersembunyi yang mengisyaratkan hal-hal yang dibutuhkan atau dikehendaki orang lain atau lebih dikenal dengan empati. Empati atau mengenal emosi orang lain dibangun berdasarkan pada kesadaran diri. Jika seseorang terbuka pada emosi sendiri maka dapat dipastikan bahwa ia akan terampil membaca perasaan orang lain. Sebaliknya orang yang tidak mampu menyesuaikan diri dengan emosinya sendiri dapat dipastikan tidak akan mampu menghormati perasaan orang lain.

  • Membina Hubungan Dengan Orang Lain

Mampu menangani emosi orang lain merupakan inti dari membina hubungan dengan orang lain yang merupakan salah satu aspek dari kecerdasan emosi. Untuk mengatasi emosi orang lain dibutuhkan dua keterampilan emosi yaitu menegemen diri dan empati. Dengan landasan ini, keterampilan berhubungan dengan orang lain akan menjadi matang. Kemampuan seseorang seperti ini memungkinkan seseorang mambentuk suatu hubungan untuk menggerakkan dan mengilhami orang lain, membina kedekatan hubungan, meyakinkan, mempengaruhi dan membuat orang lain merasa nyaman.

Berdasarkan komponen-komponen kecerdasan emosi yang diungkapkan Goleman (1995) seseorang dikatakan memiliki kecerdasan emosi yang baik bila individu mampu mengenali emosi diri, mengolah emosi dengan baik, memotivasi diri dengan mengedepankan optimism, harapan dan flow, dan juga dapat mengenali emosi orang lain serta menjaga hubungan dengan orang lain.

Ciri-ciri Individu Yang Memiliki Kecerdasan Emosi Tinggi

Goleman (1996) mengemukakan cirri-ciri individu yang memiliki kecerdasan emosi tinggi, yaitu :

  • Memiliki kemampuan untuk memotivasi diri sendiri dan dapat bertahan dalam menghadapi frustrasi.
  • Dapat mengendalikan dorongan-dorongan hati sehingga tidak melebih-lebihkan suatu kesenangan.
  • Mampu mengatur suasana hati dan dapat menjaganya agar beban stress tidak melumpuhkan kemampuan berpikir seseorang.
  • Mampu untuk berempati terhadap orang lain dan tidak lupa berdoa.

Sumber :

Fakhrurrozi, M. & Anggrainie, N. 2001. Kebijaksanaan hidup orang jawa dan kecerdasan emosional (EQ). Jurnal Ilmiah Penelitian Psikologi Universitas Gunadarma. Nomor 2 Jilid 6.

Goleman, D. 1996. Kecerdasan emosional : Mengapa EI lebih penting daripada IQ. Terjemahan: Hermaya, T. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Goleman, D. 2000. Kecerdasan emosional : Mengapa EI lebih penting daripada IQ. Terjemahan: Hermaya, T. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Goleman, D. 2005. Working with emotional intelligence: kecerdasan emosi untuk mencapai puncak prestasi. Jakarta: Gramedia Pustaka Umum.

Goleman, D. 2007. Emotional intelligence: mengapa EI lebih penting daripada IQ. Jakarta: Gramedia Pustaka Umum.

Patton, P. 2000. EQ: pengembangan sukses lebih bermakna. Jakarta: Media Publishers.

Shapiro, L. (1998). Mengajarkan emotional intelligence pada anak. Jakarta: Gramedia Pustaka Umum.

Stein, S. J. & Book, H. E. 2002. Prinsip dasar kecerdasan emosi meraih sukses. Alih bahasa: Januarsari, T, R & Murtanto, Y. Bandung: Kaifa.

Stein, S. J. & Book, H. E. 2004. Ledakan EQ: 15 prinsip dasar kec

Tjundjing, S. 2001. Hubungan antara IQ, EQ, dan AQ dengan prestasi studi pada siswa SMU. Anima, Indonesian Psychological Journal, Volume XVII No. 1, 69-87.

erdasan emosional meraih sukses. Terjemahan: Januarsari, T. R., & Murtanto, Y. Bandung: Kaifa.

    Belajar
    Pengertian

Menurut Hakim (2005) belajar adalah suatu proses perubahan di dalam kepribadian manusia, dan perubahan tersebut ditampakkan dalam bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku seperti peningkatan kecakapan, pengetahuan, sikap, kebiasaan, pemahaman, keterampilan, daya pikir, dan lain-lain kemampuan. Slameto (2003) juga menjelaskan belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Hal senada juga dikemukakan oleh Skinner (dalam Dimyati & Mudjiono, 1999) bahwa belajar merupakan hubungan antara stimulus dan respons yang tercipta melalui proses tingkah laku. Lebih lanjut, Sutikno (2007) mengemukakan belajar sebagai suatu proses usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk memperoleh suatu perubahan yang baru sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.

Gagne (dalam Slameto, 2003) menyebutkan definisi belajar yang terbagi menjadi dua uraian, yaitu:

        • Belajar ialah suatu proses untuk memperoleh motivasi dalam pengetahuan, keterampilan, kebiasaan, dan tingkah laku.

        • Belajar adalah penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang diperoleh dari instruksi.

Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa belajar adalah proses usaha yang ditampakkan oleh seseorang dan ada hubungannya antara stimulus dan respon yang akan tercipta bila seseorang tersebut merubah tingkah lakunya yang baru secara keseluruhan dalam bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku seperti peningkatan kecakapan, pengetahuan, sikap, kebiasaan, pemahaman, keterampilan, dan daya pikir, perubahan yang baru tersebut merupakan hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.

    Cara-cara belajar yang baik

Pintner (dalam Slameto, 2003) mengemukakan beberapa cara belajar yang baik, diantaranya yaitu:

  • Metode keseluruhan kepada bagian (whole to part method)

Di dalam mempelajari sesuatu, kita harus memulai dahulu dari keseluruhan, kemudian baru mendetail kepada bagian-bagiannya. Metode ini berasaldari pendapat psikologi Gestalt.

  • Metode keseluruhan lawan bagian (whole versus part method)

Untuk bahan-bahan pelajaran yang sifatnya tidak terlalu luas tepat dipergunakan metode keseluruhan. Seperti membaca buku cerita pendek. Namun untuk bahan-bahan yang bersifat non verbal misalnya mengetik lebih tepat digunakan metode bagian.

  • Metode campuran antara keseluruhan dan bagian (mediating method)

Metode ini hanya digunakan untuk bahan-bahan pelajaran yang skopnya sangat luas atau yang sukar-sukar. Misalnya tata buku dsb.

  • Metode resitasi (recitation method)

Yakni mengulangi atau mengucapkan kembali sesuatu yang telah dipelajari. Metode ini dapat dilakukan pada semua mata pelajaran.

  • Jangka waktu belajar (length of practice period)

Dari hasil-hasil eksperimen ternyata bahwa jangka waktu (periode) belajar yang produktif seperti metode menghafal adalah antara 0 – 30 menit.

  • Pembagian waktu belajar (distribution of practice period)

Belajar yang terus menerusdalam jangka waktu yang lama tanpa istirahat tidak efisien dan efektif. Menurut hokum Jost tentang belajar yakni 30 menit sehari selama 6 hari lebih baik daripada sekali belajar selama 6 jam.

  • Membatasi kelupaan

Agar tidak terjadi hal demikian, maka dalam belajar perlu adanya ulangan atau review pada waktu-waktu tertentu atau setelah akhir suatu tahap pelajaran yang diselesaikan guna untuk mengingatkan kembali bahan yang pernah dipelajari.

  • Menghafal (cramming)

Untuk dapat menguasai serta mereproduksi kembali dengan cepat bahan-bahan pelajaran yang luas atau banyak dalam waktu yang relatif singkat. Kecepatan belajar dalam hubungannya dengan ingatan. Di sini terdapat adanya korelasi antara kecepatan memperoleh suatu pengetahuan dengan daya ingatan terhadap pengetahuan itu. Mengingat adalah suatu aktifitas kognitif dimana orang menyadari bahwa pengetahuannya berasal dari masa lampa atau berdasarkan kesan-kesan yang diperoleh dimasa lampau. Terdapat dua bentuk mengingat yaitu mengenal kembali (recognisi) dan mengingat kembali (recall).

  • Retroactive inhibition

Pada waktu terjadi proses berfikir, maka akan terjadi adanya penokan atau penahanan dari suatu unit pengetahuan tertentu terhadap unit yang lain sehingga terjadi kesalahan dalm berfikir. Untuk menghindari agar tidak terjadi hal semacam itu, hendaknya dalam belajar mengajar tidak terjadi pencampur adukan beberapa mata pelajaran dalam waktu sekaligus, maka diperlukan adanya jadwal (time schedule) dalam belajar yang harus ditaati bersama.

    Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Belajar

Faktor-faktor yang mempengaruhi atau menentukan keberhasilan belajar dapat dibagi menjadi tiga, yaitu faktor internal dan faktor eksternal.

  • Faktor internal

Faktor internal dalam keberhasilan belajar, antara lain:

  • Faktor biologis (jasmaniah)

Keadaan jasmani yang perlu diperhatikan, pertama kondisi fisik yang normal atau tidak memiliki cacat sejak dalam kandungan sampai sesudah lahir. Kondisi fisik normal ini terutama harus meliputi keadaan otak, panca indera, anggota tubuh. Kedua, kondisi kesehatan fisik. Kondisi fisik yang sehat dan segar sangat mempengaruhi keberhasilan belajar. Di dalam menjaga kesehatan fisik, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain makan dan minum yang teratur, olahraga serta cukup tidur.

  • Faktor Psikologis

Faktor psikologis yang mempengaruhi keberhasilan belajar ini meliputi segala hal yang berkaitan dengan kondisi mental seseorang. Kondisi mental yang dapat menunjang keberhasilan belajar adalah kondisi mental yang mantap dan stabil. Faktor psikologis ini meliputi hal-hal berikut. Pertama, intelegensi. Intelegensi atau tingkat kecerdasan dasar seseorang memang berpengaruh besar terhadap keberhasilan belajar seseorang. Kedua, kemauan. Kemauan dapat dikatakan faktor utama penentu keberhasilan belajar seseorang. Ketiga, bakat. Bakat ini bukan menentukan mampu atau tidaknya seseorang dalam suatu bidang, melainkan lebih banyak menentukan tinggi rendahnya kemampuan seseorang dalam suatu bidang.

  • Faktor Eksternal

Faktor eksternal dalam keberhasilan belajar, antara lain:

  • Faktor lingkungan keluarga

Faktor lingkungan rumah atau keluarga ini merupakan lingkungan pertama dan utama pula dalam menentukan keberhasilan belajar seseorang. Suasana lingkungan rumah yang cukup tenang, adanya perhatian orangtua terhadap perkembangan proses belajar dan pendidikan anak-anaknya maka akan mempengaruhi keberhasilan belajarnya.

  • Faktor lingkungan masyarakat

Masyarakat merupakan faktor ekstern yang juga berpengaruh terhadap belajar seseorang karena keberadannya dalam masyarakat. Lingkungan yang dapat menunjang keberhasilan belajar diantaranya adalah, lembaga-lembaga pendidikan nonformal, seperti kursus bahasa asing, bimbingan tes, pengajian remaja dan lain-lain.

  • Faktor waktu

Waktu (kesempatan) memang berpengaruh terhadap keberhasilan belajar seseorang. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana mencari dan meluangkan waktu dengan sebaik-baiknya.

Dengan memperhatikan faktor-faktor tersebut diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar seseorang dan dapat mencegah seseorang dari penyebab-penyebab terhambatnya pembelajaran.

Sumber :

Anni, T., Acmad. RC., Edy. P, & Daniel. P. 2004. Psikologi belajar. Cetakan Pertama. Semarang : UPT MKK Universitas Negeri Semarang.

Hakim, Thursan. (2005). Belajar secara efektif. Jakarta: Puspa Swara.

Slameto. (2003). Belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.


Kategori