Alytpuspitasari's Blog

Lingkungan Hidup

Posted on: Mei 2, 2010

MEMELIHARA DAN MEMPERTAHANKAN KUALITAS LINGKUNGAN HIDUP

 Bertambahnya jumlah kendaraan angkutan penumpang dan barang yang beroperasi di jalan mengakibatkan semakin berat dan luas dampaknya terhadap lingkungan. Semua rencana perbaikan jalan dan manajemen lalu lintas bertujuan sedapat mungkin untuk berperan positip terhadap lingkungan. Namun demikian, perbaikan terhadap angkutan umum sering tidak sesuai dengan kebutuhan pejalan kaki, pengendara sepeda atau penghuni setempat. Kesetimbangan yang tepat untuk itu perlu diusahakan. Dampak lingkungan lalu lintas di wilayah perkotaan berpengaruh terhadap struktur fisik perkotaan dan kesehatan/kesejahteraan masyarakat yang tinggal, bekerja dan berkunjung.

Aspek Lingkungan

Dampak lingkungan yang diakibatkan oleh pergerakan lalu lintas dengan daerah sekitarnya, meliputi :

  • kebisingan
  • getaran
  • polusi dari gas buang
  • debu dan kotoran
  • gangguan pandang
  • resiko kecelakaan
  • severance
  • gangguan dari kendaraan-kendaraan yang diparkir.

Semua faktor diatas perlu dipertimbangkan sebagai faktor evaluasi sebelum suatu proyek transportasi di implementasikan. Masing-masing dampak lalu lintas tersebut akan dibahas didalam bab ini.

Pada gambar berikut ditunjukkan pengaruh polusi pencemaran udara dan getaran terhadap total biaya transportasi didaerah perkotaan. Pada gambar ditunjukkan bahwa beban pulusi udara adalah sebesar 14.2 triliun pertahun dan beban polusi kebisingan adalah 2.9 triliun rupiah.

Besarnya polusi yang terjadi sejalan dengan bertambahnya padatnya arus lalu lintas dan lemahnya pengawasan terhadap gas buang kendaraan. Salah satu peran yang paling besar adalah Partikel Lepas (Total Suspended Partikles/TSP) yang dikeluarkan emisi gas buang mobil diesel, polusi ini memberikan pengarus secara luar biasa terhadap tingkat kematian, yaitu setiap peningkatan sebesar 10 m g per meter kubik udara akan mengakibatkan peningkatan laju kematian sebesar 0.1 persen.

 

Gambar 5.1. Biaya Transportasi didaerah perkotaan

Lokasi dikota mana terjadinya biaya transport tersebut ditunjukkan dalam gambar 5.2. dimana terlihat bahwa peran Jakarta sangatlah besar, yaitu sebesar 22.6 persen, sedang didelapan kota raya lainnya secara keseluruhan adalah sebesar 17.9 persen.

 

Gambar 5.2. Biaya Transportasi Perkotaan menurut lokasinya

5.1 KEBISINGAN

Intensitas

Intensitas suara disuatu titik pada suatu gelombang suara diukur dari tekanannya dalam decibel (dB). Tingkat gangguannya terhadap manusia ditentukan juga oleh frekuensinya (amplitudo). Ukurannya adalah dalam dB (A).

Tingkat kebisingan lalu lintas sesaat disuatu titik sama dengan jumlah kuat suara yang diterima dari kendaraan-kendaraan yang berada pada jarak yang berbeda dan dengan bermacam-macam intensitas suara. Tingkat kebisingan ini berubah-ubah setiap saat. Tingkat kebisingan masing-masing kendaraan diukur dalam dB (A)

Parameter yang paling banyak digunakan adalah L, yakni tingkat kebisingan lebih tinggi dari tingkat kebisingan yang diukur dalam interval waktu yang telah ditetapkan.

Sumber Kebisingan

Beberapa parameter yang berpengaruh terhadap tingkat kebisingan adalah :

  • Kebisingan masing-masing kendaraan
  • Volume lalu lintas
  • Komposisi lalu lintas
  • Kecepatan lalu lintas
  • Gradien dan permukaan jalan.

 

Penyebaran

Beberapa faktor yang dapat berpengaruh terhadap penurunan kebisi-ngan lalu lintas adalah :

  • profil jalan
  • jarak
  • sifat tanah
  • tabir
  • sudut pandang dari alirn lalu lintas
  • c u a c a.

 

Predikat Kebisingan

Tujuan dari proses prediksi kebisingan adalah untuk menghitung tingkat kebisingan lalu lintas pada bagian muka suatu bangunan (sampai maksimum 200 m dari suatu jalan). Faktor yang diperhitungkan nilai parameter lalu lintas di jalan (yakni proporsi aliran kendaraan berat), profil jalan (at grade, elevated, cut dsb), topografi lokal, bangunan sekitarnya dan sudut datang dari masing-masing sumber kebisingan.

Ada 3 (tiga) tahapan yang dapat dilaksanakan secara independent:

1.  Perhitungan tingkat kebisingan pada suatu jarak referensi (patokan) dari jalan.

2.  Perhitungan pelemahan antara titik referensi dengan titik penerimaan

3.  Koreksi terhadap tingkat kebisingan bagian depan bangunan akibat sumber-sumber kebisingan yang terpisah sesuai sudut-sudut datang dari masing-masing sumber.

Tahap pertama memerlukan data lalu lintas yang sesuai. Tahap kedua dan ketiga tergantung pada informasi mengenai profil jalan, tipe ukuran dan lokasi perintang (obstacles; jika ada) dan sifat permukaan tanah.

Usaha-usaha Pengendalian Kebisingan

 Terdapat 5 bentuk :

1.  Perubahan profil jalan naturalcut atau retained cut

2.  Barrier-dalam bentuk gundukan tanah atau pagar/dinding yang dibikin khusus

3.  Jarak disediakan daerah pelemahan antara jalan dengan bangunan terdekat

4.  Double glazing dipakai pada bagian depan bangunan

5.  Kendalikan pada pusat kebisingan.

5.2 POLUSI AKIBAT GAS BUANG

Meskipun pada konsentrasi normal dari udara atmosfir tidak ada kejadian yang secara langsung memperlihatkan pengaruh, namun emisi gas buang secara umum menjadi perhatian terhadap pencemaran.

Emisi gas buang mengandung gas-gas, partikel-partikel timah dan partikel yang terlarut, serta asap hitam.

Motor diesel mengemisikan lebih sedikit gas jika dibandingkan motor bensin (juga tanpa timah).Tetapi motor diesel merupakan sumber asap hitam, terutama apabila pemeliharannya kurang baik.

Ikatan-ikatan yang Terkandung dalam Gas Buang Kendaraan

Ikatan yang pada umumnya terkandung dalam gas buang dari kenda-raan adalah :

1.  Karbon dioksida

2.  Uap air

3.  Sisa bahan bakar

4.  Ikatan organik yang dihasilkan dari bensin

5.  Karbon monoksida

6.  Ikatan timah

7.  Partikel karbon dalam bentuk asap.

Komponen-komponen tersebut karena keadaan lingkungan dapat juga membentuk suatu ikatan kedua seperti yang terjadi di Los Angeles (smog).

Pengaruh Terhadap Kesehatan

Pengaruh pengotoran udara terhadap kesehatan yang jelas adalah iritasi dan pengotoran saluran pernafasan dan paru-paru. Hal tersebut dapat disebabkan oleh sulfur dan NOx, ozone dan kom-ponen lain. Paparan untuk waktu yang lama dapat mengakibatkan bronchitis, gangguan paru-paru dan pneumonia. Gas buang kendaraan dapat mengakibatkan peningkatan konsentrasi timah dalam darah yang menyebabkan penurunan kemampuan absorbsi oksigen.

Bahaya absorbsi CO dan reaksi dengan haemoglobin dalam darah sudah kita ketahui. Derajat absorbsinya tergantung kadar CO di udara. Anak-anak yang keracunan timah dapat menderita kerusakan otak yang serius dan mengganggu perkembangan mental anak.

Gas buang kendaraan juga mengandung zat-zat mutagenic dan concerogenic yang dapat mengakibatkan kanker, khususnya jika dikombinasikan dengan rokok.

 Konsentrasi Maksimum yang diperkenankan

  • Nitrogen dioksida 1 % Konsentrasi maksimum yang diperkenankan di industri untuk 8 jam paparan.
  • Ikatan timah 200 m g/m3 Konsentrasi maksimum yang diperkenankan untuk 3 jam per hari paparan.

 Pengendalian

Usaha-usaha yang dapat dilakukan untuk mengurangi polusi udara akibat kendaraan antara lain :

  • penegakan peraturan pengujian kendaraan
  • perbaikan disain engine dan pemeliharaannya
  • penurunan kadar timah dalam bensin
  • perbaikan sistem gas buang.

  Penggunaan Bahan Bakar Gas merupakan salah satu alternatip pengurangan kadar polusi udara. Keuntungan penggunaan Bahan Bakar Gas (BBG) mengandung berbagai jenis gas ikutan, seperti nitrogen (N2 ), metana (CH4 ), etana (C 2H6 ), propana (C3 H8 ),1-butana (C4 H10 ), n-butana (C5 H10 ), n-pentana (C5H12 ), heksana (C 6H14 ), heptana (C7 H16 ) dan sebagainya. Komposisi dari setiap komponen Bahan Bakar Gas itu umumnya berbeda dari tiap penambangan, begitu juga dengan besar kalori yang dihasilkan. Misalnya, hasil penambangan di Jawa berkandungan kalori 1015,9 BTU/SCF, lapangan Arun di Lhokseumawe Aceh 1297 BTU/SCF, ARII Utara Bali 1057 BTU/SCF, Medan 1323 BTU/SCF, Lapangan Badak-Kaltim 1800 BTU/SCF, Lapangan Natuna/D Alpha Block 1739,1 BTU/SCF. (Catatan: 1 BTU/British Thermal Units = 252.000 kalori per Standard Cubic Feet/SCF). Bahan Bakar Gas memiliki keunggulan, harganya lebih murah dan membuat kinerja mobil lebih prima. Penelitian Pertamina menunjukkan, mobil yang memakai Bahan Bakar Gas, masa pakai minyak pelumasnya lebih lama dibanding mobil yang memakai bensin solar. Bahan Bakar Gas ber-Octan rating 130, sedangkan bensin 90. Karena itu, selama proses pembakaran, benturan pada mesin yang memakai BBG, amat rendah, dan mempengaruhi masa pakai minyak pelumas. Minyak pelumas biasanya baru diganti setelah 24.000 mil (sekitar 38.400 km). Usia mesin dan sistim pembuangannyapun menjadi lebih panjang. Pengalaman perusahaan taksi Yellow Cab di Anheim menunjukkan,taksinya yang memakai BBG baru turun mesin (overhaul) setelah berjalan 510.000 km. Selain itu, pembakaran yang sempurna membuat minyak pelumas tidak cepat rusak, ring piston lebih awet, mesin tidak nglithik (knocking), busi tidak cepat kotor bahkan 5 kali lebih awet dibandingkan mobil yang memakai bensin. Karburator juga lebih bersih, karena BBG tidak meninggalkan residu atau endapan ser-buk halus. Dan yang lebih penting, mobil ber-BBG lebih mudah distater walau udara dingin, karena bahan bakar sudah berbentuk gas. Keuntungan lain, menggunakan BBG tidak mencemari lingkungan. Penelitian Society of Automotive Engineers di AS, menunjukkkan, mobil berbahan bakar BBG tidak ditemukan karbon monooksida (CO), lead (timah hitam) dan asap hitam yang polusif. Gas CO yang dihasilkan mobil berbahan bakar minyak sekitar 15 gram/km, sedangkan mobil ber-BBG hanya 2,9 gram/km. Dengan demikian, mobil ber-BBG relatif lebih bersih dan bersahabat dengan lingkungan dibandingkan yang memakai BBM. Dari segi keselamatan, BBG relatif lebih aman, dibandingkan BBM. Dengan berat jenis (bd) yang lebih ringan dari bd udara sekitar 0,6036 maka BBG cenderung langsung menguap saat terjadi kebocoran. Sedangkan bahan bakar lain seperti bensin dan elpiji (LPG) yang lebih berat dari udara bila terjadi kebocoran, akan mengendap dan mengambang di permukaan tanah, sehingga mudah menimbulkan kebakaran. American Gas Association (1991) meneliti, pemakaian BBG pada mobil cukup aman karena amat lambat menjadi panas. Suhu pengapian BBG yang besarnya 1.200 o F (Fahrenheit), lebih besar dari suhu pengapian bensin yang berkisar antara 3.00o F 5.00o F. Percikan api yang dengan mudah dapat membakar dan meledakkan tangki bensin, dalam keadaan serupa yang terburuk, hanya akan menaikkan tekanan tabung yang kemudian akan menyebabkan terbukanya katup pengaman. Jika api cukup panas untuk membakar BBG, api akan menyala ke atas dan segera mati bila tabung gas telah kosong. Meski pemakaian BBG sebagai bahan alter-natip pada mobil telah dinyatakan “aman”, namun tangki BBG sebelum dipakai harus diuji dan mendapat sertifikat dari Balai Pengujian Laik Jalan dan Sertifikat Kendaraan bermotor, DLLAJ. Bila tangki BBG yang ditempatkan di ruang bagasi mobil mengalami kebocoran, gas akan menguap ke udara dan tidak akan masuk keruang penumpang, karena konstruksi ruang bagasi mempunyai ventilasi.

Tabel 5.1 Perbandingan polusi yang dihasilkan bensin, solar, Liquified Petroleum Gas (LPG) dan BBG

Polutan Karbon monoksida(CO) nitro-gen oksida(NOx) Hidro karbon (HC) butiran debu
Bensin 100 100 100 100
Solar |45 360 50 5700
LPG 70 100 200 80
BBG 65 90 180 80

 

5.3 EFEK VISUAL

  Jalan-jalan dan lalu lintas memberikan pengaruh yang bermacam-macam terhadap kwalitas visual pemandangan kota. Dalam hal ini masih sukar untuk mengadakan kuatifikasi penilaian estis, karena bervariasi selera masyarakat. Namun demikian, dewasa ini aspek-aspek yang dapat secara obyektip diukur telah dikembangkan untuk evaluasi efek visual jalan & lalu lintas.

 Proses prediksinya tergantung pada ketersediaan teknik-teknik untuk :

1.  Pengkatagorian komponen-komponen dalam suatu pemanangan.

2.  Pengukuran komponen-komponen dalam beberapa cara obyektif

  Dalam hasil-hasil survay diper-lihatkan bahwa faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kualitas pan-dangan dari suatu rumah adalah :

  • Jumlah jalan yang tampak
  • Jumlah lalu lintas yang tampak
  • Luas langit yang tampak
  • Kerapatan bangunan.

Dua faktor pertama di atas secara langsung berhubungan dengan efek visual jalan dan lalu lintas. Faktor ketiga merupakan ukuran keterbukaan.

  Ide dasar kuantifikasi intrusi visual adalah untuk megetahui seberapa besar bidang pandangan diambil oleh elemen pengganggu. Gangguan suatu elemen dalam bidang pandangan juga tergantung pada posisi elemen tersebut dalam hubungannya dengan arah pandangan suatu obyek.

Parameter berpengaruh

Intrusi visual tergantung pada :

  • jarak tegak lurus pengamat dari jalan
  • tinggi efektif jalan
  • volume dan komposisi lalu lintas
  • orientasi jalan relatif terhadap pengamat
  • tinggi pengamat.

 

Pengendalian

  Intsrusi visual dikendalikan melalui landscaping, tehnik khusus yang berusaha untuk menciptakan kesera-sian pandang melalui integrasi dan pengendalian apa yang dapat dilihat sehingga tidak mengganggu. Salah satu cara yang biasa dilakukan adalah dengan mengendalikan jumlah iklan yang dipasanga didaerah manfaat jalan, kabel udara diganti dengan kabel dalam tanah, pemanfaatan tanaman untuk menutup bagian-bagian yang kurang aestetik dan lain sebagainya.

5.4 SERVERANCE

Apabila suatu bentuk fisik linear, seperti rel kereta api, sungai atau jalan besar ada dalam suatu lingkungan perkotaan, mungkin akan dapat mem-berikan pengaruh terhadap masyarakat sekitarnya. Dalam hal ini khususnya menyangkut faktor-faktor komunikasi lintas. Untuk jalan faktor penghalang dapat mencakup lebarnya, jarak antara titik-titik penyeberangan dan lalu lintas di jalan tersebut.

Masyarakat merasakan campuran dari faktor-faktor penghalang seperti itu berulang kali setiap harinya. Sebagai akibatnya, dalam hal ini mereka mempelajari karakteristik jalan dan terbentuk perilaku berdasarkan apa yang mereka terima dan ketahui.

  Kata severance disini digunakan untuk menunjukkan respons persepsi, attitude dan perilaku terhadap bentuk linear tertentu dalam lingkungan perkotaan.

 Gambar 5.3. Desain jalan berwawasan lingkungan

Parameter Severance

  Disuatu daerah dimana terdapat jalan, tingkat severance berkaitan dengan faktor-faktor berikut :

1.  jarak tegak lurus rumah tinggal ke jalan

2.  lokasi rumah tinggal dalam hubungannya dengan titik-titik penyeberangan

3.  ada/tidak fasilitas penyeberangan pejalan kaki

4.  ada/tidak car access ke jalan

5.  karakteristik individual penghuni, yakni umur, sex kelas sosial dan ketersediaan kendaraan

6.  distribusi fasilitas (toko, sekolah dan lain-lain) pada sisi lain jalan.

Pengendalian

  • menempatkan trayek mengelilingi sua-tu area
  • elevating atau tunneling (mahal)
  • menyediakan titik-titik penyeberangan seperti jembatan-jembatan, underpas, penyeberangan pejalan kaki dan sebagainya.

 

5.5 V I B R A S I

Vibrasi terutama dirasakan pada kawasan yang banyak dilalui oleh kendaraan berat dan besar.

Vibrasi lalu lintas ditimbulkan oleh :

  • perubahan-perubahan beban yang diberikan kepada permukaan jalan oleh suspensi kendaraan.
  • karena impact yang tidak beraturan pada permukaan jalan.
  • bunyi frekuensi rendah.

 

Pengendalian :

  • pemeliharaan permukaan jalan
  • pengendalian kecepatan kendaraan, khususnya kendaraan-kendaraan be-rat.
  • penyediaan trayek jauh dari lokasi yang diterapkan khususnya untuk kendaraan berat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Kategori

%d blogger menyukai ini: